<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d14610711\x26blogName\x3d.::+DANKOS+::.\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dSILVER\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://menyehnyeh.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://menyehnyeh.blogspot.com/\x26vt\x3d184719990926675945', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

.:: DANKOS ::.

Saturday, March 08, 2008

Sabar

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa seorang anak dari Abu Thalhah sakit. Ketika Abu Thalhah keluar, anak itu meninggal. Ketika Abu Thalhah kembali, dia bertanya, “Bagaimana anakku?” Ummu Sulaim menjawab, “Ia dalam kondisi sangat tenang,” seraya menghidangkan makan malam kepadannya, dan dia pun makan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ummu Sulaim berkata, “Jangan beritahukan kepada Abu Thalhah tentang kematian anaknya.” Kemudian ia melakukan tugasnya sebagai isteri kepada suaminya, lalu suaminya berhubungan intim dengannya. Ketika akhir malam, ia berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu bila keluarga si fulan meminjam suatu pinjaman, lalu memanfaatkannya, kemudian ketika pinjaman itu diminta, mereka tidak suka?” Ia menjawab, “Mereka tidak adil.” Ummu Sulaim berkata, “Sesungguhnya anakmu, fulan, adalah pinjaman dari Allah dan Dia telah mengambilnya.” Abu Thalhah beristirja’ (mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaaa ilaih raaji’uun) dan memuji Allah seraya mengatakan, “Demi Allah, aku tidak membiarkanmu mengalahkanku dalam kesabaran.” Pada pagi harinya, dia datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala beliau melihatnya, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua di malam hari kalian.” Keberkahan itu, sejak malam itu, mencakup ‘Abdullah bin Abi Thalhah, dan tidak ada pada kaum Anshar seorang pemuda yang lebih baik darinya. Dari ‘Abdullah tersebut lahirlah banyak anak, dan ‘Abdullah tidak meninggal sehingga dia dikaruniai sepuluh anak yang semuanya hafal al-Qur-an, dan dia wajat di jalan Allah.

----------------------------------------------------------------
Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5470) kitab al-‘Aqiiqah, Muslim (no. 2144), kitab Fadhaa-ilush Shahaabah, Ahmad (no. 11617).

Sunday, September 16, 2007

Menghadapi Celaan Manusia

Dikutip dari buku Ar-Rasaail Jilid 2 yg ditulis oleh ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, pada risalah ke 13 "Tiga Orang yang Binasa Karena Riya' ", pada sub bab "Obat Penyakit Riya" pada point kedelapan "Tidak peduli dengan celaan dan pujian manusia". Tidak semuanya saya tulis, hanya bagian bagaimana menghadapi celaan manusia saja. Semoga bermanfaat. Barakallahufikum.

------------------------------------------------------------------
Seandainya ia berbohong kepada kita dan mengada-ada terhadap kesalahan tersebut dan mencelanya, maka kita harus memikirkan tiga perkara:

Pertama, jika kita bersih dari kesalahan itu, maka kita tidak lepas dari aib atau kesalahan yang lain. Karena sesungguhnya manusia banyak berbuat salah dan banyak sekali aib kita yang Allah tutupi. Ingatlah nikmat Allah, karena si pencela tidak mengetahui aib yang lain dan tolaklah dengan cara yang baik.

Kedua, sesungguhnya membuat-buat berita untuk mencela kita dan memfitnah, semua ini adalah penghapus dosa kita, jika kita sabar dan mengharapkan pahala dari Allah.

Ketiga, orang yang mencela dan memfitnah kita akan mendapatkan kemurkaan Allah. Allah Subhanawata'ala berfirman:

"Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa. Kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah. Maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. An-Nisaa':112)

Kita harus berusaha untuk memaafkannya, karena Allah Subhanawata'ala cinta kepada orang-orang yang suka memaafkan. Allah Ta'ala berfirman:

"Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raaf:199)

Akan tetapi jika mereka zhalim dan terus menerus memfitnah, maka diperbolehkan untuk membela diri. Lihat surat asy-Syuuraa ayat 39-41.
------------------------------------------------------------------

Thursday, August 09, 2007

Iseng ....

Gw dapet dari temen gw si Rere (Rioni Willem). Dan gw udah coba .... kerjaan iseng ... tapi asik juga. Gw nyobanya pake firefox dan ie.
1. Buka website apa aja yang banyak gambarnya, gampangnya http://images.google.com trus cari deh dengan kata kunci semau kita.
2. nah, alamat url yang ada di browser kita ganti semua nya, mulai dari http:// sampe ujungnya dengan ini:
javascript:R=0; x1=.1; y1=.05; x2=.25; y2=.24; x3=1.6; y3=.24; x4=300; y4=200; x5=300; y5=200; DI=document.images; DIL=DI.length; function A(){for(i=0; i-DIL; i++){DIS=DI[ i ].style; DIS.position='absolute'; DIS.mkssddddddddddd=Math.sin(R*x1+i*x2+x3)*x4+x5; DIS.top=Math.cos(R*y1+i*y2+y3)*y4+y5}R++}setInterval('A()',5); void(0);
3. Enter.

Asik nggak tuh ......

Friday, July 27, 2007

si Fajar bikin usaha soto ?


Lagi jalan pulang menuju kost-kostan, tampak spanduk kuning dengan informasi dagangan soto. Namanya panggilannya mirip pula sama temen gw yg ada di Bali sekarang, Jay alias Fajar. Apa jangan-jangan itu usaha sampingan temen gw ya ???

Sunday, July 15, 2007

Instropeksi dalam Hujatan

Sewaktu ditengah kajian membahas hadits wasiat Rasulullah shallallahu'alaihi wasalam, diantara wasiatnya adalah "Katakan kebenaran walaupun kebenaran itu pahit". Ustad Yazid berkata bahwa dalam melakukannya ada batasan-batasan syari'at ditimbang dari maslahat (kebaikan) dan mafsadah (bahayanya) nya. Tidak ragu lagi bahwa muslimin dengan pemahaman benar, dengan pemahaman yang telah diwariskan oleh pendahulunya yakni Rasulullah shallallahu'alaihi wasalaam beserta sahabat Beliau shallallahu'alaihiwasalam yang shaleh (salafyin), telah kenyang dengan berbagai tuduhan, fitnah, gelaran-gelaran yang jelek, dan lain sebagainya, yang dilemparkan oleh musuh-musuh Islam. Diantaranya adalah, salafy itu tukang memutuskan silaturahmi, salafy itu tukang caci maki, salafy itu keras dan kasar, dan segudang tuduhan lainnya. Walaupun demikian salafy tidak boleh mundur karena tuduhan-tuduhan tersebut, sebab semua amal yang kita lakukan bukan bergantung dari omongan orang, tapi sah tidak nya suatu amalan selalu ditimbang melalui syari'at yang benar tentunya dengan pemahaman salafus sholeh. Tapi juga dalam melakukan amal ma'ruf nahimunkar tidak boleh mengabaikan maslahat dan mafsadah nya. Kemudian ustad Yazid memberikan nasihat, diantara hujatan dan gelaran jelek yang sampai kepada du'at juga harus menjadi instropeksi bagi diri kita semua, dengan begitu kita dapat menginstropeksi diri kita, apakah ada kata-kata kita yang salah dalam mendakwahkan Islam yang haq ini, ataukah mungkin ada yang salah dalam bersikap.

Sudahkah kita melakukan instropeksi dari hujatan yang sampai ke diri kita ?

Monday, July 09, 2007

Nasihat dari pak GM

Seorang GM Assitance Sahira Butik Hotel, namanya Sifradansyah dipanggil pak Sifra, pernah menuturkan sebuah kata mutiara sebagai sebuah nasihat kepada bawahannya. Saat itu anak buahnya melakukan suatu kesalahan, yang kemudian rekannya yang lain mencoba membelanya dengan mengungkapkan keadaan dia yang menghadapi berbagai masalah. Dengan tegas pak Sifra ini berkata "Kamu nggak bisa begitu, semua orang punya masalah kok ..". Cerita ini disampaikan oleh salah seorang staff di hotel itu kepada gw. Dan gw begitu sangat gembira mendengar cerita nasihat ini, kenapa ? karena dengan kata-kata itulah kita bisa termotivasi untuk tetap profesional dalam pekerjaan kita. Begini rasanya yang ada di otak gw, semua orang punya masalah kan? Betul, lalu apa bedanya kamu saya dan orang lain dalam menuntaskan pekerjaannya ? tidak ada, maka profesionalah dalam bekerja. Deng deng ..... kereen .....

Saat Advance Developer berbicara ...

Diawali dari pertanyaan ringan mengenai tehnik scripting html untuk dapat melakukan multi action pada sebuah form yang sama. Pertanyaan ini gw lontarkan pada seorang advance developer di perusahaan gw, namanya Harry Saputra Kartono bin Angling Kartono. Dengan mudah dan ringan dia jawab "buat aja function di javascript yang isinya men-set nilai action form nya kemudian panggil method submit, dan fungsi ini dipanggil pada suatu button di event onclick". Gw pun tersenyum puas mendengar jawaban ini, karena solusi itu memanglah tepat sekali. Sembari iseng gw lontarkan statement pujian pada dia "Lu jago juga ya rhie", dengan tangkas dia pun menjawab "Wehh ... kos ... Kalo gw nggak jago gw nggak akan disini". Statement itu gw suka banget, mantap dan keren rasanya. Bisa menjadi kutipan buku sejarah tentang statement ini :

"Kalo gw nggak jago gw nggak akan disini" (Harry, 2007)
----------------------------------------------------------------

Thursday, July 05, 2007

Saat Kata tak lagi Terucap ....!


Mungkin orang yang masang plang ini udah kehabisan kata-kata kali ya ......

Agama kamu apa ??

Pertanyaan ini begitu susah dijawab oleh seorang bocah umur kelas 2 SD. Diawali dari selesainya gw sholat Ashar, keluar dari Masjid gw ketemu sama seorang bocah yang meminta uang kepada gw. Awalnya gw tanya, "kamu minta uang buat apa?" dia pun menjawab "buat beli jajan kue", dengan sedikit heran ditambah kecewa gw teruskan pertanyaan gw "memangnya kamu belum pernah beli kue?", spontan dia jawab "belum". Lalu gw mulai lihat keadaan anak ini, pakaiannya lumayan, penampilannya cukup lah, dan nggak ada tampang susahnya. Setelah gw tanya tempat dia tinggal, sekolah dan lainnya, mulai muncul rasa kasihan kepada anak ini, rasa kasihan akan mentalnya sebagai pengemis. Mulai gw raba saku gw, dan ternyata ada beberapa uang kecil. Ada niat dihati untuk mengajarkan mengucapkan salam jika bertemu kepada anak ini, lalu mulailah gw tanya agama si bocah ini, "Agama kamu apa?" dia pun terdiam. Diam karena bingung harus jawab apa. Allahu Akbar. Dengan rasa setengah tidak percaya dengan keadan anak itu, gw tanya sekali lagi "Agama kamu apa?" dia tambah bingung dengan pertanyaan gw, lalu dia sempat jawab "Saya masih belum sekolah". Gw pun bertambah bingung dengan jawabannya, bingung murokab. Sudah mah omongannya nggak sinkron waktu gw tanya di awal, ditambah jawabannya nggak nyambung. Gw berpikir, mungkin harapan anak ini dengan dia menjawab seperti itu gw akan berhenti bertanya karena berpikir dia belum pandai karena belum sekolah. Tapi masa sih pertanyaan dasar seperti ini nggak bisa dijawab ama bocah seusia dia, dan orang dengan mental seberani dia. Tidak lama kemudian dia kembali mengulurkan tangannya sembari meminta uang jajan kepada gw. Lalu gw pkir, mungkin kalau dikasih hadiah dia mau jawab pertanyaan gw yang dasar dan penting itu. Trus gw bilang ke dia "Gini, kalau kamu bisa jawab nanti baru aku kasih uangnya", dia pun tampak berpikir keras untuk bisa menjawab pertanyaan gw. Dan sampai akhir cerita dia tidak bisa menjawab pertanyaan gw "Agama kamu apa?". Fainnalillahiwainalillahi roji'un, ini betul-betul sebuah bencana besar bagi bocah tersebut.