<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-14610711</atom:id><lastBuildDate>Mon, 12 Oct 2009 20:47:45 +0000</lastBuildDate><title>.:: DANKOS ::.</title><description>Tempat Berbagi Cerita</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-4014663807151395792</guid><pubDate>Sat, 08 Mar 2008 10:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-08T02:59:25.196-08:00</atom:updated><title>Sabar</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa seorang anak dari Abu Thalhah sakit. Ketika Abu Thalhah keluar, anak itu meninggal. Ketika Abu Thalhah kembali, dia bertanya, “Bagaimana anakku?” Ummu Sulaim menjawab, “Ia dalam kondisi sangat tenang,” seraya menghidangkan makan malam kepadannya, dan dia pun makan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ummu Sulaim berkata, “Jangan beritahukan kepada Abu Thalhah tentang kematian anaknya.” Kemudian ia melakukan tugasnya sebagai isteri kepada suaminya, lalu suaminya berhubungan intim dengannya. Ketika akhir malam, ia berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu bila keluarga si fulan meminjam suatu pinjaman, lalu memanfaatkannya, kemudian ketika pinjaman itu diminta, mereka tidak suka?” Ia menjawab, “Mereka tidak adil.” Ummu Sulaim berkata, “Sesungguhnya anakmu, fulan, adalah pinjaman dari Allah dan Dia telah mengambilnya.” Abu Thalhah beristirja’ (mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaaa ilaih raaji’uun) dan memuji Allah seraya mengatakan, “Demi Allah, aku tidak membiarkanmu mengalahkanku dalam kesabaran.” Pada pagi harinya, dia datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala beliau melihatnya, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua di malam hari kalian.” Keberkahan itu, sejak malam itu, mencakup ‘Abdullah bin Abi Thalhah, dan tidak ada pada kaum Anshar seorang pemuda yang lebih baik darinya. Dari ‘Abdullah tersebut lahirlah banyak anak, dan ‘Abdullah tidak meninggal sehingga dia dikaruniai sepuluh anak yang semuanya hafal al-Qur-an, dan dia wajat di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5470) kitab al-‘Aqiiqah, Muslim (no. 2144), kitab Fadhaa-ilush Shahaabah, Ahmad (no. 11617).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-4014663807151395792?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2008/03/sabar.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-5732681829279895708</guid><pubDate>Mon, 17 Sep 2007 05:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-09-16T22:54:10.919-07:00</atom:updated><title>Menghadapi Celaan Manusia</title><description>Dikutip dari buku Ar-Rasaail Jilid 2 yg ditulis oleh ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, pada risalah ke 13 "Tiga Orang yang Binasa Karena Riya' ", pada sub bab "Obat Penyakit Riya" pada point kedelapan "Tidak peduli dengan celaan dan pujian manusia". Tidak semuanya saya tulis, hanya bagian bagaimana menghadapi celaan manusia saja. Semoga bermanfaat. Barakallahufikum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Seandainya ia berbohong kepada kita dan mengada-ada terhadap kesalahan tersebut dan mencelanya, maka kita harus memikirkan tiga perkara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, jika kita bersih dari kesalahan itu, maka kita tidak lepas dari aib atau kesalahan yang lain. Karena sesungguhnya manusia banyak berbuat salah dan banyak sekali aib kita yang Allah tutupi. Ingatlah nikmat Allah, karena si pencela tidak mengetahui aib yang lain dan tolaklah dengan cara yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, sesungguhnya membuat-buat berita untuk mencela kita dan memfitnah, semua ini adalah penghapus dosa kita, jika kita sabar dan mengharapkan pahala dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, orang yang mencela dan memfitnah kita akan mendapatkan kemurkaan Allah. Allah Subhanawata'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa. Kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah. Maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. An-Nisaa':112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus berusaha untuk memaafkannya, karena Allah Subhanawata'ala cinta kepada orang-orang yang suka memaafkan. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raaf:199)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi jika mereka zhalim dan terus menerus memfitnah, maka diperbolehkan untuk membela diri. Lihat surat asy-Syuuraa ayat 39-41.&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-5732681829279895708?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/09/menghadapi-celaan-manusia.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-496975129935064539</guid><pubDate>Thu, 09 Aug 2007 07:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-08-09T02:09:20.659-07:00</atom:updated><title>Iseng ....</title><description>Gw dapet dari temen gw si Rere (Rioni Willem). Dan gw udah coba .... kerjaan iseng ... tapi asik juga. Gw nyobanya pake firefox dan ie.&lt;br /&gt;1. Buka website apa aja yang banyak gambarnya, gampangnya http://images.google.com trus cari deh dengan kata kunci semau kita.&lt;br /&gt;2. nah, alamat url yang ada di browser kita ganti semua nya, mulai dari http:// sampe ujungnya dengan ini:&lt;br /&gt;javascript:R=0; x1=.1; y1=.05; x2=.25; y2=.24; x3=1.6; y3=.24; x4=300; y4=200; x5=300; y5=200; DI=document.images; DIL=DI.length; function A(){for(i=0; i-DIL; i++){DIS=DI[ i ].style; DIS.position='absolute'; DIS.mkssddddddddddd=Math.sin(R*x1+i*x2+x3)*x4+x5; DIS.top=Math.cos(R*y1+i*y2+y3)*y4+y5}R++}setInterval('A()',5); void(0);&lt;br /&gt;3. Enter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asik nggak tuh ......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-496975129935064539?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/08/iseng.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-6662499136401166411</guid><pubDate>Sat, 28 Jul 2007 03:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-10T19:48:38.281-08:00</atom:updated><title>si Fajar bikin usaha soto ?</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PHXvyoR1BcQ/Rqq2pU0aC7I/AAAAAAAAAAs/-oxomJCyCmQ/s1600-h/Picture%2820%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PHXvyoR1BcQ/Rqq2pU0aC7I/AAAAAAAAAAs/-oxomJCyCmQ/s400/Picture%2820%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092083149775178674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lagi jalan pulang menuju kost-kostan, tampak spanduk kuning dengan informasi dagangan soto. Namanya panggilannya mirip pula sama temen gw yg ada di Bali sekarang, Jay alias &lt;a href="http://rafaelrider.blogspot.com/"&gt;Fajar&lt;/a&gt;. Apa jangan-jangan itu usaha sampingan temen gw ya ???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-6662499136401166411?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/07/si-fajar-bikin-usaha-soto.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PHXvyoR1BcQ/Rqq2pU0aC7I/AAAAAAAAAAs/-oxomJCyCmQ/s72-c/Picture%2820%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-3465723892669329985</guid><pubDate>Mon, 16 Jul 2007 05:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-07-15T22:55:41.926-07:00</atom:updated><title>Instropeksi dalam Hujatan</title><description>Sewaktu ditengah kajian membahas hadits wasiat Rasulullah shallallahu'alaihi wasalam, diantara wasiatnya adalah "Katakan kebenaran walaupun kebenaran itu pahit". Ustad Yazid berkata bahwa dalam melakukannya ada batasan-batasan syari'at ditimbang dari maslahat (kebaikan) dan mafsadah (bahayanya) nya. Tidak ragu lagi bahwa muslimin dengan pemahaman benar, dengan pemahaman yang telah diwariskan oleh pendahulunya yakni Rasulullah shallallahu'alaihi wasalaam beserta sahabat Beliau shallallahu'alaihiwasalam yang shaleh (salafyin), telah kenyang dengan berbagai tuduhan, fitnah, gelaran-gelaran yang jelek, dan lain sebagainya, yang dilemparkan oleh musuh-musuh Islam. Diantaranya adalah, salafy itu tukang memutuskan silaturahmi, salafy itu tukang caci maki, salafy itu keras dan kasar, dan segudang tuduhan lainnya. Walaupun demikian salafy tidak boleh mundur karena tuduhan-tuduhan tersebut, sebab semua amal yang kita lakukan bukan bergantung dari omongan orang, tapi sah tidak nya suatu amalan selalu ditimbang melalui syari'at yang benar tentunya dengan pemahaman salafus sholeh. Tapi juga dalam melakukan amal ma'ruf nahimunkar tidak boleh mengabaikan maslahat dan mafsadah nya. Kemudian ustad Yazid memberikan nasihat, diantara hujatan dan gelaran jelek yang sampai kepada du'at juga harus menjadi instropeksi bagi diri kita semua, dengan begitu kita dapat menginstropeksi diri kita, apakah ada kata-kata kita yang salah dalam mendakwahkan Islam yang haq ini, ataukah mungkin ada yang salah dalam bersikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita melakukan instropeksi dari hujatan yang sampai ke diri kita ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-3465723892669329985?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/07/instropeksi-dalam-hujatan.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-8253210960599907077</guid><pubDate>Mon, 09 Jul 2007 23:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-07-11T22:37:41.006-07:00</atom:updated><title>Nasihat dari pak GM</title><description>Seorang GM Assitance Sahira Butik Hotel, namanya Sifradansyah dipanggil pak Sifra, pernah menuturkan sebuah kata mutiara sebagai sebuah nasihat kepada bawahannya. Saat itu anak buahnya melakukan suatu kesalahan, yang kemudian rekannya yang lain mencoba membelanya dengan mengungkapkan keadaan dia yang menghadapi berbagai masalah. Dengan tegas pak Sifra ini berkata "Kamu nggak bisa begitu, semua orang punya masalah kok ..". Cerita ini disampaikan oleh salah seorang staff di hotel itu kepada gw. Dan gw begitu sangat gembira mendengar cerita nasihat ini, kenapa ? karena dengan kata-kata itulah kita bisa termotivasi untuk tetap profesional dalam pekerjaan kita. Begini rasanya yang ada di otak gw, semua orang punya masalah kan? Betul, lalu apa bedanya kamu saya dan orang lain dalam menuntaskan pekerjaannya ? tidak ada, maka profesionalah dalam bekerja. Deng deng ..... kereen .....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-8253210960599907077?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/07/nasihat-dari-pak-gm.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-1663703715960231080</guid><pubDate>Mon, 09 Jul 2007 23:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-07-09T16:45:12.633-07:00</atom:updated><title>Saat Advance Developer berbicara ...</title><description>Diawali dari pertanyaan ringan mengenai tehnik scripting html untuk dapat melakukan multi action pada sebuah form yang sama. Pertanyaan ini gw lontarkan pada seorang advance developer di perusahaan gw, namanya Harry Saputra Kartono bin Angling Kartono. Dengan mudah dan ringan dia jawab "buat aja function di javascript yang isinya men-set nilai action form nya kemudian panggil method submit, dan fungsi ini dipanggil pada suatu button di event onclick". Gw pun tersenyum puas mendengar jawaban ini, karena solusi itu memanglah tepat sekali. Sembari iseng gw lontarkan statement pujian pada dia "Lu jago juga ya rhie", dengan tangkas dia pun menjawab "Wehh ... kos ... Kalo gw nggak jago gw nggak akan disini". Statement itu gw suka banget, mantap dan keren rasanya. Bisa menjadi kutipan buku sejarah tentang statement ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalo gw nggak jago gw nggak akan disini" (Harry, 2007)&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-1663703715960231080?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/07/saat-advance-developer-berbicara.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-4367991592077612276</guid><pubDate>Thu, 05 Jul 2007 22:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-10T19:48:38.337-08:00</atom:updated><title>Saat Kata tak lagi Terucap ....!</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PHXvyoR1BcQ/Ro12H4LWhPI/AAAAAAAAAAk/9zjczdNPTC0/s1600-h/Picture%2840%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PHXvyoR1BcQ/Ro12H4LWhPI/AAAAAAAAAAk/9zjczdNPTC0/s400/Picture%2840%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083849432082318578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mungkin orang yang masang plang ini udah kehabisan kata-kata kali ya ......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-4367991592077612276?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/07/saat-kata-tak-lagi-terucap.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PHXvyoR1BcQ/Ro12H4LWhPI/AAAAAAAAAAk/9zjczdNPTC0/s72-c/Picture%2840%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-2116061395066653421</guid><pubDate>Thu, 05 Jul 2007 13:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-07-05T07:28:00.019-07:00</atom:updated><title>Agama kamu apa ??</title><description>Pertanyaan ini begitu susah dijawab oleh seorang bocah umur kelas 2 SD. Diawali dari selesainya gw sholat Ashar, keluar dari Masjid gw ketemu sama seorang bocah yang meminta uang kepada gw. Awalnya gw tanya, "kamu minta uang buat apa?" dia pun menjawab "buat beli jajan kue", dengan sedikit heran ditambah kecewa gw teruskan pertanyaan gw "memangnya kamu belum pernah beli kue?", spontan dia jawab "belum". Lalu gw mulai lihat keadaan anak ini, pakaiannya lumayan, penampilannya cukup lah, dan nggak ada tampang susahnya. Setelah gw tanya tempat dia tinggal, sekolah dan lainnya, mulai muncul rasa kasihan kepada anak ini, rasa kasihan akan mentalnya sebagai pengemis. Mulai gw raba saku gw, dan ternyata ada beberapa uang kecil. Ada niat dihati untuk mengajarkan mengucapkan salam jika bertemu kepada anak ini, lalu mulailah gw tanya agama si bocah ini, "Agama kamu apa?" dia pun terdiam. Diam karena bingung harus jawab apa. Allahu Akbar. Dengan rasa setengah tidak percaya dengan keadan anak itu, gw tanya sekali lagi "Agama kamu apa?" dia tambah bingung dengan pertanyaan gw, lalu dia sempat jawab "Saya masih belum sekolah". Gw pun bertambah bingung dengan jawabannya, bingung murokab. Sudah mah omongannya nggak sinkron waktu gw tanya di awal, ditambah jawabannya nggak nyambung. Gw berpikir, mungkin harapan anak ini dengan dia menjawab seperti itu gw akan berhenti bertanya karena berpikir dia belum pandai karena belum sekolah. Tapi masa sih pertanyaan dasar seperti ini nggak bisa dijawab ama bocah seusia dia, dan orang dengan mental seberani dia. Tidak lama kemudian dia kembali mengulurkan tangannya sembari meminta  uang jajan kepada gw. Lalu gw pkir, mungkin kalau dikasih hadiah dia mau jawab pertanyaan gw yang dasar dan penting itu. Trus gw bilang ke dia "Gini, kalau kamu bisa jawab nanti baru aku kasih uangnya", dia pun tampak berpikir keras untuk bisa menjawab pertanyaan gw. Dan sampai akhir cerita dia tidak bisa menjawab pertanyaan gw "Agama kamu apa?". Fainnalillahiwainalillahi roji'un, ini betul-betul sebuah bencana besar bagi bocah tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-2116061395066653421?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/07/agama-kamu-apa.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-6670205045362851586</guid><pubDate>Mon, 07 May 2007 17:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-05-07T12:16:41.784-07:00</atom:updated><title>Biar Tekor asal Sohor</title><description>Bi titi, itu lah nama panggilannya. Seorang yang super tangkas dalam menangani masalah dapur. Sering juga dipanggil bi sarah untuk panggilan kerennya. Suatu ketika dia nyeletuk "Biar Tekor asal Sohor", kalimat pendek penuh makna. Gw spontan ngakak geli ngedengernya. Walaupun terdengar geli dan mengundang cibiran orang, tapi tidak sedikit yang mengimplementasikan celetukan ini. Tidak sedikit orang yang dengan segenap kekuatan, entah secara finance atau secara fisik, mengusahakan dirinya agar lebih keren, lebih terlihat super, lebih begini dan begitu. Bukanlah sesuatu yang salah sesekali menikmati apa yang telah kita miliki, dan tidaklah seperti kaum sufi yang kalo nikmatin dunia berasanya dosa melulu, tetapi kalo udah sampe memaksakan diri dengan mengerahkan segenap kemampuan untuk membuat dirinya sohor bahkan sampe tekor..... wah ini perlu dikoreksi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-6670205045362851586?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/05/biar-tekor-asal-sohor.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-4760051564078919656</guid><pubDate>Mon, 07 May 2007 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-05-07T10:19:14.275-07:00</atom:updated><title>Tengah Malam di dalam Hotel</title><description>Tengah malam ini, tepat nya jam 00.12 gw lagi ada di hotel, tepatnya di butik hotel Sahira, jalan paledang Bogor. Asik juga ternyata suasana tengah malam di dalam hotel gini. Gw berangkatnya tadi berdua. Gw sebagai pendamping night audit master sistem hotel yang lagi gw install. Kalo lu tanya temen gw ce apa co, al jawab yakni cowo. Ternyata pergantian hari sistem hotel itu nggak sama ama kehidupan kita, jadi kalo bill-bill yang diperiksa ini masih belum bener maka hari pun tidak bisa berganti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-4760051564078919656?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/05/tengah-malam-di-dalam-hotel.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-6924941397497342059</guid><pubDate>Fri, 20 Apr 2007 02:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-19T19:56:34.044-07:00</atom:updated><title>PDA Murah</title><description>Diawali dari hp gw yang suka ngaco, entar mati sendiri kalo di charge, lambat dan lainnya, mulailah gw cari-cari kandidat pengganti hp gw. Spesifikasi utama yg gw inginkan (dan gw rasa juga disetujui banyak orang) adalah MURAH dan CANGGIH. Hehehe ... anak sd juga tau kayanya. Mulailah gw buka tuh yang namanya http:://www.ponseljakarta.com, terus gw mulai nyari tau berapa sih harga pda phone yang murah, wow .... ternyata untuk sistem operasi yang palm ada yang harganya 700 ribu, tentu saja ini barang 2nd. Yang lebih mengagetkan lagi pda ipaq 6365 (gw nggak tau apakah ipaq ini keluaran hp atau bukan) harganya Rp 1.300.000. Karena penasaran gw telpon lah contact person dari toko itu, dia bilang betul hanya saja cuma dapet pda nya dan charger nya, nggak pake dus ama buku, dia bilang ini adalah barang BM. Lalu gw tanyakanlah masalah garansinya, dia bilang garansinya cuma 2 hari. Mmm .... cukup was was juga.&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ini indikasi baik bagi bisnis berbasiskan mobile technology, semakin banyak yang punya handphone canggih, semakin mudah pula penyebaran aplikasi-aplikasi mobile.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-6924941397497342059?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/04/pda-murah.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-3501820182823360671</guid><pubDate>Fri, 20 Apr 2007 02:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-10T19:48:38.557-08:00</atom:updated><title>Kursi BALAS</title><description>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_PHXvyoR1BcQ/RignCRaBbWI/AAAAAAAAAAU/Y5fTzd8wnvY/s1600-h/kursi_gretong.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5055333501709151586" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_PHXvyoR1BcQ/RignCRaBbWI/AAAAAAAAAAU/Y5fTzd8wnvY/s400/kursi_gretong.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa hari yang lalu air asia ngirim email ke gw, ngasih tau kalau ada 500.000 kursi gratis untuk pembelian sampai tanggal 20 April. Baru hari ini gw coba ngetest. Ternyata bener kursinya gratis, tapi pajak ama tetek bengek nya mah tetep aja bayar. Walaupun gitu harganya tuh nggak masuk di akal. Masa gw coba pesen tiket dari Jakarta ke Balikpapan (kalimantan timur) cuma kena 120ribu kurang dikit. Untungnya dari mana ya kira kira ?? Mereka kan harus bayar karyawan, bayar parkir pesawat, bayar ongkos perawatan dan bayaran bayaran lainnya. Ajaib. &lt;div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada yang bilang pesawatnya kurang enak, ada juga yang bilang pelayanannya kurang baik, didalem pesawat mereka dagang makanan, nggak pake nomor kursi jadi pilih tempat duduknya rebutan, dan segambreng keluhan lainnya. Alakulihal, tetep aja murah dan cukup mengguncang maskapai yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mmm .... gw jadi penasaran pengen naik, cuma kemana ya yang enak buat pergi sabtu pulang minggu??&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-3501820182823360671?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/04/kursi-balas.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PHXvyoR1BcQ/RignCRaBbWI/AAAAAAAAAAU/Y5fTzd8wnvY/s72-c/kursi_gretong.JPG' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-5869720787514493676</guid><pubDate>Wed, 04 Apr 2007 02:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-04T05:08:07.846-07:00</atom:updated><title>Service Yahoo Messanger Tandingan</title><description>Lambat .... ini adalah penyebab muncul nya ide penghematan bandwidth yg digunakan oleh messenger Yahoo!. Idenya gini, gimana caranya gw pakai yahoo messenger tapi kalau gw kirim message ke id yahoo yg ada di sekitar jaringan lokal gw maka komunikasinya nggak perlu pakai jalur internet, tapi kalau ngirim nya diluar orang jaringan gw maka baru dibutuhkan jalur internet, kasarnya jalur internet dipake kalau perlu aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada di kepala gw saat ini, bikin service yahoo messenger tandingan, dimana dia paham dan dapat melayani melalui protocol yg sama dengan service yahoo messenger beneran. Waktu login server tandingan ini memfoward informasi loginnya ke server yahoo beneran, dan feedback dari server beneran ke server tandingan ini juga diteruskan ke client yg bersangkutan. Pada saat event login tadi ip client tadi di catat oleh server tandingan tadi, tujuannya agar dapat mengetahui mana saja client-client yahoo messenger yg ada di jaringan lokal. Nah server tandingan ini tinggal ngecek deh, apakah id yahoo tujuan dari messege yg datang itu terdapat dalam daftar client-client yg lokal atau tidak, kalau lokal maka messenge tidak diteruskan ke server yahoo tapi langsung ditembak ke client tujuan yg ada dilokal, tapi kalo id yahoo tujuannya tidak ada dalam daftar maka teruskan ke server yahoo. Jika client yahoo messenger lokal ini logout atau disconnect maka status disconnect ini diteruskan ke server yahoo dan daftarnya sebagai client lokal dihapus supaya offline messege masih bisa jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran sederhananya gini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;client YM ----- server_tandingan ---- server yahoo messenger&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, permasalahannya adalah bagaimana kita mengetahui protokol Yahoo messenger tersebut, caranya bisa dengan membuka source code messenger yg open source yg mendukung yahoo messenger seperti Gaim atau sejenisnya. Setelah itu bahasa apa yg akan dipakai untuk mendevelop sistem ini? Pilihannya mungkin C++ atau Java, soalnya yg cukup populer untuk jalan serbagai service itu, kalau pakai C++ lebih kenceng tapi lebih susah, kalau pakai Java lebih lambat tapi lebih mudah dipahami. Hehe .... asumsi pribadi ini bakal menimbulkan banyak konflik bagi para ahli operating system atau para ahli optimasi pemrograman. Tapi apapun itu bahasanya asalkan opensource dan mudah dicerna (dengan desain yg baik, dokumentasi yg cukup, dan kode yg rapi), insya Allah akan lebih mudah dikembangkan bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw masih blon nyari apakah udah pernah ada yg bikin project kaya gini, jadi kalo ternyata ide gw ini basi ya ... harap maklum lah ya ...... Okey, feedback dan support nya sangat gw nanti nantikan lho ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-5869720787514493676?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/04/service-yahoo-messanger-tandingan.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-323211260325733513</guid><pubDate>Sat, 03 Mar 2007 02:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-03-02T19:01:04.293-08:00</atom:updated><title>Nazhar Sebelum Menikah</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Penulis:&lt;br /&gt;Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seorang pemuda yang hendak menikahi seorang wanita, bolehkah dia memandang wanita tersebut, bagaimana batasannya, dan kapan diperbolehkan?(Abu Abdirrahman, &lt;a href="mailto:aris…@gawab.com"&gt;aris…@gawab.com&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jawab:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Alhamdulillah. Haramnya seorang lelaki memandang wanita yang bukan mahramnya termasuk dalam kategori tahrimul wasilah. Artinya, diharamkan karena merupakan wasilah (perantara) yang akan menyeret kepada perkara inti yang memang haram pada asalnya. Sehingga seluruh wasilah dan dzari’ah (jalan) menuju perkara tersebut ditutup oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan cara diharamkan. Kaidah ini dikenal di kalangan ulama dengan istilah saddudz-dzari’ah (menutup jalan/wasilah).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sesuatu yang pengharamannya termasuk dalam bab ini, bisa dibolehkan ketika ada hajat (tuntutan) kebutuhan meskipun bukan darurat. Ini adalah ushul (prinsip hukum) yang dipegang oleh Al-Imam Ahmad, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (23/186-187, 214-215).Berdasarkan hal ini, tatkala seorang lelaki berhajat untuk memperistri seorang wanita dan sebaliknya, maka hajat tersebut menuntut untuk saling mengenal terlebih dahulu. Sehingga keduanya menikah tidak secara membabi buta, yang mengandung resiko timbulnya penyesalan di kemudian hari dan berakibat tidak harmonisnya kehidupan rumah tangga mereka berdua.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Syariat yang penuh hikmah dan bijaksana ini menginginkan terciptanya rumah tangga yang harmonis, yang terbina di atas cinta dan kasih sayang, agar pasangan suami istri hidup tenang dan bahagia. Dengan demikian keduanya akan memiliki ‘iffah (mampu menjaga diri dari perzinaan dan perkara-perkara yang menyeret kepada perbuatan zina) serta mampu ber-ta’awun (bekerja sama dan saling membantu) dalam menaati Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menjaga diri dari maksiat. Demikian pula berbagai maslahat lainnya yang merupakan tujuan disyariatkannya pernikahan. Wallahu ‘alimun hakim (Allah Maha Tahu lagi Maha Bijaksana).Dalam rangka memenuhi tuntutan hajat ini, maka seorang lelaki yang hendak menikahi seorang wanita diizinkan untuk melakukan nazhar (melihat dan mengamati dengan seksama) wanita yang hendak dilamarnya. Sebagaimana dalam hadits Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إِلَى مَا يَدْعُوْهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Apabila salah seorang kalian melamar seorang wanita, hendaklah dia memandang bagian tubuhnya yang akan menjadikannya tertarik untuk menikahinya, jika dia mampu melakukannya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya, dihasankan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 99 dan Al-Irwa` no. 1791)Begitu pula hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, yang mengisahkan seorang lelaki yang datang dan mengabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia telah melamar seorang wanita dari kalangan Anshar. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّ فِي أَعْيُنِ اْلأَنْصَارِ شَيْئًا&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Apakah engkau telah melihatnya?" Lelaki itu menjawab: "Belum." Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: "Hendaklah engkau melihatnya terlebih dahulu karena pada mata wanita-wanita Anshar ada sesuatu." (HR. Muslim, Ahmad dan An-Nasa`i)Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum nazhar. Sebagian mereka mengatakan hukumnya mubah (boleh), dan sebagian yang lain mengatakan sunnah mustahab.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/125-126, cetakan Darul Atsar): "Yang benar dalam masalah ini hukumnya sunnah (karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya). Jika seseorang telah mengenalnya tanpa melakukan nazhar maka tidak ada hajat baginya untuk melakukan nazhar. Seperti halnya bila dia mengutus seorang wanita yang benar-benar dia percayai untuk mengenali wanita yang hendak dipinangnya (dan dia bersandar dengan berita dari wanita itu). Meskipun demikian, pada hakekatnya nazhar orang lain tidak cukup mewakili nazhar yang dilakukan sendiri. Karena boleh jadi wanita itu cantik di mata orang lain, namun belum tentu cantik di mata sendiri.[1] Boleh jadi wanita itu dinazhar dalam keadaan gembira dan riang, yang tentu saja berbeda jika dinazhar dalam keadaan sedih. Juga, terkadang wanita yang dinazhar berusaha untuk tampil cantik dengan berdandan menggunakan make up, sehingga disangka cantik padahal tidak demikian hakikatnya."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perlu diketahui bahwa nazhar yang syar’i memiliki beberapa persyaratan:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nazhar hanya terbatas pada bagian tubuh tertentu. Batasan ini diperselisihkan para ulama. Dalam hal ini, Al-Imam Ahmad memiliki tiga riwayat (pendapat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat pertama sama dengan pendapat jumhur ulama, yang mengatakan bahwa yang boleh dilihat adalah sebatas wajah dan telapak tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat kedua, beliau berpendapat bahwa boleh untuk melihat bagian tubuhnya yang biasa nampak dan terlihat dalam kesehariannya ketika di rumah saat bersama mahramnya, seperti wajah, kepala, leher, lengan, dan betis.&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menerangkan riwayat ini: "Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan untuk nazhar secara mutlak, baik dengan seizin dan sepengetahuan si wanita yang bersangkutan ataupun tidak, berarti beliau mengizinkan untuk melihat apa yang biasa terlihat dalam kesehariannya ketika di rumah bersama mahramnya. Karena ketika melakukan nazhar secara diam-diam tanpa seizin dan sepengetahuan si wanita, maka tidak mungkin membatasi diri hanya melihat wajah saja. Bahkan bagian-bagian tubuh lainnya yang biasa nampak tentu akan terlihat pula."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat ketiga sama dengan pendapat Azh-Zhahiriyah, yakni boleh melihat seluruh bagian tubuh tanpa kecuali. (Lihat Al-Mughni, 6/387-388, Tahdzib Sunan Abi Dawud hadits no. 2068, dan Nailul Authar, 6/111)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang rajih adalah riwayat/pendapat kedua dari Al-Imam Ahmad.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-Albani berkata dalam At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Raudhatin Nadiyyah (2/154): “Jika hadits Jabir radhiyallahu 'anhu tidak menunjukkan apa yang dikatakan Ibnu Hazm (yakni pendapat Azh-Zhahiriyyah) maka tidak diragukan lagi bahwa hadits tersebut menunjukkan makna lebih dari batasan yang disebutkan oleh jumhur. Wallahu a’lam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-Albani juga berkata dalam Ash-Shahihah (1/157): “Riwayat yang kedua dari Al-Imam Ahmad lebih dekat kepada dzahir[2] hadits dan praktik para shahabat. Wallahu a’lam.”Pendapat ini juga dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/126).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Jika dia belum melihat sesuatu yang menjadikan dia tertarik pada nazhar yang pertama, boleh baginya untuk mengulangi nazhar untuk yang kedua atau ketiga kalinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan secara mutlak tanpa membatasi satu kali saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nazhar dilakukan tanpa khalwat (berduaan). Karena tidak ada tuntutan hajat dan maslahat untuk ber-khalwat. Bahkan bisa menjatuhkan keduanya dalam perkara-perkara yang melanggar syariat, sehingga hal ini tetap haram hukumnya. Jadi, nazhar dilakukan dengan cara ditemani oleh wali atau mahram si wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Jika tidak mungkin (nazhar ditemani walinya) maka boleh bagi si lelaki untuk bersembunyi di tempat yang akan dilewati wanita tersebut dan mengamatinya secara diam-diam.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nazhar dilakukan tanpa disertai syahwat. Karena wanita tersebut belum menjadi istrinya, sehingga tidak dibenarkan dia bersenang-senang dengan memandanginya disertai syahwat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nazhar dilakukan apabila si lelaki telah bertekad untuk melamar si wantia. Jika sekedar coba-coba, atau barangkali dan barangkali, maka tidak dibenarkan. Karena pada asalnya, nazhar hukumnya haram. Hanya saja diizinkan ketika ada kebutuhan dan maslahat pernikahan. Sehingga nazhar tidak boleh melampaui apa yang diizinkan syariat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nazhar dilakukan apabila ada ghalabatuzh zhann (persangkaan kuat) bahwa lamarannya akan diterima. Seandainya dia seorang yang fakir atau miskin, kemudian menazhar anak seorang pejabat, atau seorang lanjut usia menazhar seorang gadis belia, perawan dan cantik, maka kemungkinan besar lamarannya akan ditolak. (Al-Mughni, 6/387-388, Asy-Syarhul Mumti’, 5/126-127)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Terakhir, sebagai peringatan, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/126): "Tidak boleh melakukan percakapan dengan wanita yang dinazhar saat melakukan nazhar. Karena percakapan lebih membangkitkan syahwat dan lebih menggoda untuk menikmati suaranya dari sekedar nazhar. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: ‘Hendaklah ia memandang dari tubuhnya’, bukannya mengatakan: ‘Hendaklah dia mendengar suaranya’."Wallahu a’lam.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ket:&lt;br /&gt;[1] Karena kecantikan adalah sesuatu yang relatif. (pen.)&lt;br /&gt;[2] Makna hadits yang nampak dan terpahami secara langsung. (pen.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asysyariah.com/print.php?id_online=409"&gt;http://asysyariah.com/print.php?id_online=409&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-323211260325733513?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2007/03/nazhar-sebelum-menikah.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-116433017694051987</guid><pubDate>Fri, 24 Nov 2006 01:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-11-23T17:02:57.810-08:00</atom:updated><title>HUKUM BERJUAL BELI SECARA KREDIT</title><description>HUKUM BERJUAL BELI SECARA KREDIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Pembicaraan seputar berjual beli secara kredit lagi marak. Oleh karena itu, mohon kepada yang mulia untuk menjelaskan hukum mejual dengan kredit !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Menjual dengan kredit artinya bahwa seseorang menjual sesuatu (barang) dengan harga tangguh yang dilunasi secara berjangka. Hukum asalnya adalah dibolehkan berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya" [Al-Baqarah : 282]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam telah membolehkan jual beli As-Salam, yaitu membeli secara kredit terhadap barang yang dijual. Akan tetapi kredit (angsuran) yang dikenal di kalangan orang-orang saat ini adalah termasuk dalam bentuk pengelabuan terhadap riba. Teknisnya ada beberapa cara, di antaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama&lt;br /&gt;Seseorang memerlukan sebuah mobil, lalu datang kepada si pedagang yang tidak memilikinya, sembari berkata, "Sesungguhnya saya memerlukan mobil begini". Lantas si pedagang pergi dan membelinya kemudian menjual kepadanya secara kredit dengan harga yang lebih banyak. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa ini adalah bentuk pengelabuan tersebut karena si pedagang mau membelinya hanya karena permintaannya dan bukan membelikan untuknya karena kasihan terhadapnya tetapi karena demi mendapatkan keuntungan tambahan, seakan dia meminjamkan harganya kepada orang secara riba (memberikan bunga, pent), padahal para ulama berkata, "Setiap pinjaman yang diembel-embeli dengan tambahan, maka ia adalah riba". Jadi, standarisasi dalam setiap urusan adalah terletak pada tujuan-tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua&lt;br /&gt;Bahwa sebagian orang ada yang memerlukan rumah tetapi tidak mempunyai uang, lalu pergi ke seorang pedagang yang membelikan rumah tersebut untuknya, kemudian menjual kepadanya dengan harga yang lebih besar secara tangguh (kredit). Ini juga termasuk bentuk pengelabuan terhadap riba sebab si pedagang ini tidak pernah menginginkan rumah tersebut, andaikata ditawarkan kepadanya dengan separuh harga, dia tidak akan membelinya akan tetapi dia membelinya hanya karena merasa ada jaminan riba bagi dirinya dengan menjualnnya kepada orang yang berhajat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran yang lebih jelek lagi dari itu, ada orang yang membeli rumah atau barang apa saja dengan harga tertentu, kemudian dia memilih yang separuh harga, seperempat atau kurang dari itu padahal dia tidak memiliki cukup uang untuk melunasinya, lalu dia datang kepada si pedagang, sembari berkata, "Saya telah membeli barang anu dan telah membayar seperempat harganya, lebih kurang atau lebih banyak dari itu sementara saya tidak memiliki uang, untuk membayar sisanya". Kemudian si pedagang berkata, "Saya akan pergi ke pemilik barang yang menjualkannya kepada anda dan akan melunasi harganya untuk anda, lalu saya mengkreditkannya kepada anda lebih besar dari harga itu. Dan banyak lagi gambaran-gambaran yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi yang menjadi dhabit (ketentuan yang lebih khusus) adalah bahwa setiap hal yang tujuannya untuk mendapatkan riba, maka ia adalah riba sekalipun dikemas dalam bentuk akad yang halal, sebab tindakan pengelabuan tidak akan mempengaruhi segala sesuatu. Mengelabui hal-hal yang diharamkan oleh Allah, hanya akan menambahnya menjadi semakin lebih buruk karena mengandung dampak negativ Dari hal yang diharamkan dan penipuan, padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Janganlah kamu melakukan dosa sebagaimana dosa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi sehingga (karenanya) kemu menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah (sekalipun) dengan serendah-rendah (bentuk) pengelabuan (siasat licik)". [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa Mu'ashirah, hal. 52-53, dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1] Lihat, Ibn Baththah dalam kitab Ibthalil Hiyal hal. 24. Irwa'ul Ghalil 1535&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-116433017694051987?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2006/11/hukum-berjual-beli-secara-kredit.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-116210228604446483</guid><pubDate>Sun, 29 Oct 2006 04:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-10-28T23:16:06.660-07:00</atom:updated><title>Mau senam dijalan?</title><description>Sekarang lagi trandnya wanita pakai busana senam ke tengah jalan. Dengan celana super ketat (biasanya sih itu dipake buat erobik) ama pake baju yang super ketat juga (kayanya sih itu baju senam juga deh, kadang ada juga yang mirip busana pantai). Berpasang-pasang mata laki laki tertuju pada ke elokan badannya yang aduhai dari atas sampe bawah, dari depan ampe belakang. Anehnya, perempuan jenis ini semakin dilihat, semakin dongkak keatas kepalanya. Aneh sekali. Kemana harga diri perempuan itu ??!! Kasihan ... untuk menunjukkan bahwa dirinya exist, dia harus menggadaikan harga dirinya dan badannya ditengah umum. Untuk mengekspresikan dirinya cantik, dia rela mengobral anggota tubuhnya ke hadapan manusia khususnya laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transaksi jual adalah memberikan sesuatu dengan/untuk menerima sesuatu juga, dalam hal ini barter bisa dikatakan sebagai transaksi jual. Maka jika seorang perempuan memberikan/memperlihatkan badannya kepada orang lain (bukan mahromnya) dengan harapan menerima pujian / sesuatu dari orang lain, apa namanya kalau bukan jual badan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai perempuan setengah telanjang, kemana harga diri kalian ??!! jika harga diri kalian telah kalian relakan, apa lagi yang kalian miliki untuk dipertahankan ? dimana letak mahalnya diri kalian ? sudah semurah itukan diri kalian ? Ingatlah, bahwa kalian lahir itu bukan untuk merendahkan harga diri kalian, bukan untuk membuang rasa malu kalian, bukan untuk menjadi manusia primitif yang nggak kenal baju, tapi sebaliknya, bagaimana Allah subhana wata'ala telah menjelaskan melalui Rasul-Nya yang mulia Muhammad shalallahu'alaihi wasalaam tentang tingginya kehormatan kaum perempuan. Kenapa kehormatan yang begitu tinggi ini yang telah Allah berikan kepada kalian harus kalian hempaskan ke tempat yang rendah ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diingatkan mereka pun berkata "ini kan trend masa kini", cobalah kalian ingat sewaktu pertama kali menggunakan busana itu, tidakkah hati nurani kalian menentangnya ? yang kemudian kalian butakan hati nurani kalian sendiri dengan mencari pembenaran-pembenaran yang dibuat-buat. Kemudian ada lagi yang berkata "ini kan hak pribadi kami dalam memilih busana", emang dunia ini punya kalian doang ??!! emang cuma kalian yang punya hak ? yang lain juga punya hak untuk tidak mengotori pandangan mereka dengan hal-hal porno seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah sudah kaum perempuan menjadi korban pelecehan, janganlah kalian menjadi pemicu timbulnya korban berikutnya. Kalau kalian melihat seseorang memandangi kelian dengan wajah takjub atau bengong atau sejenisnya, janganlah kalian berpikir bahwa orang tersebut kagum karena bagusnya busana ketat kalian, tapi mereka takjub dengan peradaban kalian yang buruk, "kok ada ya, manusia yang mau setengah bugil di jalan, rasanya nggak perecaya sama apa yang gw liat" begitu kira-kira sebagian orang bergumam, atau "ooh gini to bentuk badannya, kira kira nggak jauh deh bentuknya kalau dia lagi tidak berbusana", selayaknya perempuan murahan yang sedang dipandangi oleh laki-laki hidung belang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih na'as nya, ada sebagian ibu menganjurkan anaknya berpenampilan porno seperti itu agar si anak ini laku, bisa menarik perhatian pemuda kaya, biar nggak kalah saingan ama anak orang lain, dan lain sebagainya. Na'udzubillah. Sudah tidak bermuka sama sekali orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah bangkitkan harga diri kalian, jaga aurat kalian. Jaga sikap agar tetap sopan yang akhirnya menimbulkan rasa kagum karena keanggunan kalian, karena tingginya kehormatan kalian, sehingga orang pun tidak akan berpikir macam-macam kepada para perempuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-116210228604446483?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2006/10/mau-senam-dijalan.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-116184778289033880</guid><pubDate>Thu, 26 Oct 2006 07:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-10-26T00:30:19.386-07:00</atom:updated><title>Hari yang tak tergantikan</title><description>Hari Idul Fitri pun tlah tiba. Semua senang semua riang. Dan gw berencana untuk nelpon rumah pada hari itu. Tapi ternyata pulsa gw dah abis. Tukang pulsa langganan gw juga tutup dan kebanyakan ditempat lain juga tutup, soalnya mereka pada lebaran. Apa boleh dikata, gw pun menunda pembelian pulsa. Rencana gw abis gw beli pulsa gw mo nelpon rumah. Tapi apa yang terjadi ..... Gw keburu ditelpon besok paginya (1 hari setelah lebaran). Setelah panjang kali lebar berbicara gw pun menjelaskan bahwa gw kehabisan pulsa. Semua paham dengan kondisi gw. Tapi sebelum gw menjelaskan ini kepada ortu gw, ternyata ortu gw punya pandangan lain, sehingga dia bertanya kepada gw "&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;dani masih nganggep mama ini sebagai ibu dani kan?&lt;/span&gt;". Ini bukanlah kali pertama gw ditanya seperti ini oleh ortu gw. Ternyata dia masih menganggap bahwa dengan dengan gw masuk Islam berarti putus sudah kewajiban gw untuk berbuat baik kepada beliau. Padahal selama ini gw telah berulang-ulang kali menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya gw sempet kesel ngedenger orang tua gw ngomong gitu ke gw, yang ada dikepala gw tuh "sebenernya apa sih yang bikin dia mikir gini terus". Sewaktu gw ditanya gitu gw pun diam, bukan diam karena kaget tapi gw diem karena kesel nya minta ampun. Kesel ama siapa ??? kesel ama pertanyaan dan pikiran yang ada dikepala orang tua gw. Kemudian gw pun orang tua gw pun berkata "halo halo ... dani ... kok diem", dan gw pun menjawab "cape juga dani ngadepin ginian terus ..... berulang kali dani udah jelasin ke mama, jelasin ke koko tapi masih aja timbul pemikiran kaya gitu", kemudian gw jelasin juga bahwa gw nggak nelpon dia itu belum sampe 1 bulan, masa cuma gara-gara telat nelpon gitu langsung berpikiran "aneh" gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis telpon itu perasaan gw pun nggak karuan, kacau balau. Gw pun merenungi kejadian itu. Dan gw baru menyadari bahwa nilai dari nelpon pada hari lebaran itu nggak bisa diganti pada hari lain. Walaupun bagi gw itu sama aja, tapi itu belum tentu sama dimata orang tua gw. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi kompos, yang bisa dipetik menjadi pelajaran adalah selain menyiapkan pakaian untuk sholat Ied, persiapkan juga pulsa untuk nelpon orang tua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-116184778289033880?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2006/10/hari-yang-tak-tergantikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-116156186075903706</guid><pubDate>Sun, 22 Oct 2006 23:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-10-22T17:04:21.046-07:00</atom:updated><title>Hari Raya Bersama Penguasa</title><description>Malam kemaren (22 Oktober 2006), adalah hari penentuan apakah bulan Ramadhan ini akan menjadi 29 hari ataukah 30 hari. Negara kita pun membuat rapat itsbat (penentuan) hari raya Idul Fithri. Akhirnya keputusan yang dikeluarkan oleh menteri agama adalah 1 Syawal jatuh pada tanggal 24 Oktober 2006 hari selasa, itu artinya bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari. Sebagian orang ada yang sudah menentukan sendiri 1 Syawal nya jatuh pada tanggal 23 Oktober, lalu mereka berlebaran sendiri. Kenapa ini harus dilakukan ? Bukankah kita memiliki pemimpin negara yang muslim yang harus dipatuhi selama itu bukan kemaksiatan? Bukankah ini akan memecah belah kaum muslimin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kalam-Nya nan suci:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Sebagaimana Dia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara keyakinan atau pun amalan…” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيَّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri di antara kalian.” (An-Nisa`: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi berkata: “Yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat. Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan fiqih serta yang lainnya.”(Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal. 222)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَىاللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahabat ‘Adi bin Hatim radhiallahu 'anhu berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا رَسُوْلَ اللهِ! لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ- فَذَكَرَ الشَّرَّ- فَقَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ، قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ (حُذَيْفَةُ): قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهُ! أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لاَ، مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Aku telah bertemu dengan 1.000 orang lebih dari ulama Hijaz (Makkah dan Madinah), Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam dan Mesir….” Kemudian beliau berkata: “Aku tidak melihat adanya perbedaan di antara mereka tentang perkara berikut ini –beliau lalu menyebutkan sekian perkara, di antaranya kewajiban menaati penguasa (dalam hal yang ma’ruf)–.” (Syarh Ushulil I’tiqad Al-Lalika`i, 1/194-197)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata: “Dan selama belum (terwujud) bersatunya negeri-negeri Islam di atas satu mathla’ (dalam menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, -pen.), aku berpendapat bahwa setiap warga negara hendaknya melaksanakan shaum Ramadhan bersama negaranya (pemerintahnya) masing-masing dan tidak bercerai-berai dalam perkara ini, yakni shaum bersama pemerintah dan sebagian lainnya shaum bersama negara lain, baik mendahului pemerintahnya atau pun belakangan. Karena yang demikian itu dapat mempertajam perselisihan di tengah masyarakat muslim sendiri. Sebagaimana yang terjadi di sebagian negara Arab sejak beberapa tahun yang lalu. Wallahul Musta’an.” (Tamamul Minnah hal. 398)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga berkata: “Inilah yang sesuai dengan syariat (Islam) yang toleran, yang di antara misinya adalah mempersatukan umat manusia, menyatukan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari segala pendapat pribadi yang memicu perpecahan. Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi –meski menurut yang bersangkutan benar– dalam ibadah yang bersifat kebersamaan seperti; shaum, Ied, dan shalat berjamaah. Tidakkah engkau melihat bahwa sebagian shahabat radhiallahu 'anhum shalat bermakmum di belakang shahabat lainnya, padahal sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah dari tubuh termasuk pembatal wudhu, sementara yang lainnya tidak berpendapat demikian?! Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna (4 rakaat) dalam safar dan di antara mereka pula ada yang mengqasharnya (2 rakaat). Namun perbedaan itu tidaklah menghalangi mereka untuk melakukan shalat berjamaah di belakang seorang imam (walaupun berbeda pendapat dengannya, -pen.) dan tetap berkeyakinan bahwa shalat tersebut sah. Hal itu karena adanya pengetahuan mereka bahwa bercerai-berai dalam urusan agama lebih buruk daripada sekedar berbeda pendapat. Bahkan sebagian mereka mendahulukan pendapat penguasa daripada pendapat pribadinya pada momen berkumpulnya manusia seperti di Mina. Hal itu semata-mata untuk menghindari kesudahan buruk (terjadinya perpecahan) bila dia tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud (1/307), bahwasanya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu 'anhu shalat di Mina 4 rakaat (Zhuhur, ‘Ashar, dan Isya’ -pen). Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu mengingkarinya seraya berkata: “Aku telah shalat (di Mina/hari-hari haji, -pen.) bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan di antara kalian (sebagian shalat 4 rakaat dan sebagian lagi 2 rakaat, -pen.), dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”&lt;br /&gt;Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “Engkau telah mengingkari ‘Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, (mengapa) kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar radhiallahu 'anhu.&lt;br /&gt;Maka dari itu, hendaknya hadits dan atsar ini benar-benar dijadikan bahan renungan oleh orang-orang yang (hobi, -pen.) berpecah-belah dalam urusan shalat mereka serta tidak mau bermakmum kepada sebagian imam masjid, khususnya shalat witir di bulan Ramadhan dengan dalih beda madzhab. Demikian pula orang-orang yang bershaum dan berbuka sendiri, baik mendahului mayoritas kaum muslimin atau pun mengakhirkannya dengan dalih mengerti ilmu falaq, tanpa peduli harus berseberangan dengan mayoritas kaum muslimin. Hendaknya mereka semua mau merenungkan ilmu yang telah kami sampaikan ini. Dan semoga ini bisa menjadi obat bagi kebodohan dan kesombongan yang ada pada diri mereka. Dengan harapan agar mereka selalu dalam satu barisan bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin, karena tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala bersama Al-Jama’ah.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 444-445)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu pernah ditanya: “Jika awal masuknya bulan Ramadhan telah diumumkan di salah satu negeri Islam semisal kerajaan Saudi Arabia, namun di negeri kami belum diumumkan, bagaimanakah hukumnya? Apakah kami bershaum bersama kerajaan Saudi Arabia ataukah bershaum dan berbuka bersama penduduk negeri kami, manakala ada pengumuman? Demikian pula halnya dengan masuknya Iedul Fithri, apa yang harus kami lakukan bila terjadi perbedaan antara negeri kami dengan negeri yang lainnya? Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalas engkau dengan kebaikan.”&lt;br /&gt;Beliau menjawab: “Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.”&lt;br /&gt;Wabillahit taufiq. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber yang gw ambil dari asySyariah bagian &lt;a href='http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=370' target=_blank&gt;Shaum Ramadhan dan Hari Raya Bersama Penguasa, Syi'ar Kebersamaan Umat Islam&lt;/a&gt;. Wallahu'alam bishawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-116156186075903706?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2006/10/hari-raya-bersama-penguasa.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-116127094756966262</guid><pubDate>Thu, 19 Oct 2006 15:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-10-19T08:15:50.380-07:00</atom:updated><title>Class Generator Problem</title><description>Akhirnya beres juga class generator versi 2. Design sistemnya lebih rapi dari sebelumnya. Ehm ... ehm .... jujur aja yang versi 1 ancurr ... acakkadut ..... pokoknya kalo ngeliat source codenya langsung pengen didelete ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Design database nya pun lebih normal, dan insya Allah jauh lebih baik dari versi 1. Masa yang versi 1 kalo mo bikin project baru, gw harus bikin database baru .... kan kacau ..... Kemudian gw migrasi'in deh dari database yang lama ke database yang baru tadi. Begitu gw coba ... jalan sempurna .... tapi ............... ngeload tree nya lamaa banget deh ..... masa butuh waktu sektar 12-13 detik untuk memprosesnya. Kayanya kudu dikasih class buat tree itu, yang isinya langsung ngambil datanya dari database, jadi nggak pake object. Belon dicoba sih ...... tapi gw optimis jadi lebih cepat .... kalo gitu kita liat aja nanti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-116127094756966262?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2006/10/class-generator-problem.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-116119056689792344</guid><pubDate>Wed, 18 Oct 2006 16:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-10-18T09:56:07.746-07:00</atom:updated><title>Antara senang dan takut</title><description>Kalau orang bilang cari pasangan hidup itu gampang-gampang susah, menurut gw nggak, yang lebih tepat gampang susah-susah, soalnya antara gampang dan susah lebih banyak susahnya. Kenapa susah ? Siapa yang bikin susah ? Itu semua kembali pada takdir yang telah Allah tentukan dan usaha dari orang yang melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu terakhir gw emang kepikiran tentang masalah ini, walhasil gw sedang mencari pasangan hidup, bukan "mainan" hidup. Mulailah gw bertanya-tanya ke temen-temen gw. Kriteria yang gw inginkan pun gw publish untuk kalangan terbatas (cieh ... kaya buku aja). Waktu pun berlalu, tapi tidak satupun ada yang srek buat gw. Sampai akhirnya, ada seorang teman gw, sebutlah saja sang bidadari penolong ini dengan inisial 'ungu', memberitahukan tentang keberadaan seseorang yang kayanya pas buat gw. Gw jadi penasaran pengen tau, pertama gw tanya alamat chat nya, setelah dapat gw langsung menuju friendster terus gw search deh. Ketemu!!! lalu gw sodorkan foto yang ada di fs itu kepada si 'ungu', tapi dia bilang nggak sama. Bingung dan penasaran pun muncul. Tapi apa boleh dikata, temen gw si 'ungu' tidak dapat memberikan foto nya ke gw. Lalu gw pun menghubungi dia malalui jalur chat, tapi belum sempat gw berkata panjang lebar, id gw direject ama dia, ada rasa kecewa dikit tapi gw seneng berarti nih orang nggak sembarangan. Hingga saat itu gw hanya sebatas penasaran. Sampai akhirnya gw bisa ngobrol ama dia melalui jalur chat karena dikenalkan oleh si 'ungu'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah panjang kali lebar kali setengah (emang luas segitiga ...!!). Orangnya asik diajak ngobrol, yaa..... cukup supel. Lalu tukar tukaran fs pun terjadi, lalu gw liat foto liat ..... gw tercengang ..... mirip ama ade gw yang paling kecil. Hal pertama yang bikin gw kagum dari orang ini adalah dia sanggup mengambil keputusan besar untuk berbakti kepada ibunda tercinta. Kemudian gw tanya masalah foto wisuda yang dia pajang di fs. Gw bilang selendang yang nempel di bahu dia itu apa, dia jawab ngalor ngidul, gw layani dengan ngidul ngalor dan gw tanyakan kembali, lalu dia berkilah bahwa itu adalah penobatan mahasiswa terlucu, ya .... nggak mungkin lah gw percaya gitu aja, terus gw tanya lagi akhirnya dia ngaku kalo itu karena prestasi ipk yang tinggi, langsung aja gw tembak "lu cumlaude ya?", tetep aja awalnya dia susah ngejawab, tapi akhirnya dia ngaku juga. Dia bilang itu cuma beruntung, sayang gw belum pernah liat ada orang yang beruntung selama 3 tahun = 6 semester = 36 bulan + TA ngandelin beruntung doang terus cumlaude, belum pernah gw liat !!!! Tentulah ada usaha manusia yang menjadi sebab dia cumlaude, dan juga sudah barang tentu Allah subhanawata'ala yang telah mengatur semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak dari kegembiraan gw menemukan orang seperti ini, timbulah rasa takut dan was-was. Takut kalo gw makin susah ngelupain dia dan was-was kalo gw nyakitin dia. Takut ibadah gw jadi ngaco karena kehilangan khusyu, takut gw kehabisan waktu, dan .... takut dia hanya akan menjadi bintang yang menghiasi sepinya malam tanpa dapat bisa diraih.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-116119056689792344?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2006/10/antara-senang-dan-takut.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-116106799663147866</guid><pubDate>Tue, 17 Oct 2006 05:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-10-16T23:53:20.996-07:00</atom:updated><title>Porsi Beribadah</title><description>Alhamdulillah, sholawatu wasalaam ala Nabi Muhammadan abduhu wa Rasuluh.&lt;br /&gt;Coba kita perhatikan dalam keseharian hidup kita, dari 24 jam waktu yang diberikan oleh Allah azzawajalla berapa yang sudah kita pakai buat menuntut ilmu syar'i atau ibadah lainnya. Tarolah dalam sehari kita tidur 8 jam (dan 8 jam ini termasuk lebih dari cukup), berarti ada 14 jam waktu yang kita habiskan dalam beraktivitas. Dari 14 jam ini sudahkah kita membaginya dengan bijaksana, apakah porsi untuk urusan akhirat sudah cukup dalam seharinya? Padahal diantar pertanyaan yang ditanyakan oleh Allah subhana wata'ala pada hari kiamat nanti diantaranya adalah tentang apa yang telah kita kerjakan di dunia yang fana dan sementara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HR. Tirmidzi No.2532, (artinya):&lt;br /&gt;Dari Abi Barzah al-Asami an-Alaslami, Rasulullah Shalallahu'alaihi wasalam bersabda: "tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba sehingga ditanyakan tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk hal apa ia amalkan ilmu itu, dan tentang hartanya dari mana ia peroleh harta itu dan kemana ia infaq-kan harta itu, dan tentang jasadnya / tubuhnya cape dan lelah letihnya untuk apa"&lt;br /&gt;Berkata Tirmidzi, hadits ini hasan shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rasulullah shalallahu'alaihi wassalaam telah mewanti-wanti agar kita tidak menjadi orang yang sia-sia semasa di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HR Dari Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, (artinya):&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda "Sesungguhnya bagi setiap amal itu ada masa-masa semangatnya ada masa masa lelah dan letihnya, barang siapa semangat dan lelah letihnya dalam melaksanakan sunnahku maka dia termasuk orang yang mendapatkan hidayah, dan barang siapa yang lelah letihnya bukan karena sunnahku maka dia sia-sia"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap detik nafas yang kita hirup, setiap detik mata yang kita pakai, setiap detik telinga yang kita gunakan, dan setiap detik penggunaan semua fasilitas yang telah diberikan Allah azzawajalla kepada kita, semuanya GRATIS, GRATIS, GRATIS!!! Dan seandainya kamu ingin menghitung nikmat Allah, niscaya tidak akan ada satu mahlukpun yang dapat menghitungnya. Allah subhana wata'ala berfirman (artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (Ibrahim(14):34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dikasih duit dari customer / dari perusahaan tempat kita kerja, maka akan kita balas dengan cara bekerja yang baik pada customer / perusahaan itu. Tapi untuk semua kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, kemana ibadah kita? Dan sesungguhnya Allah itu tidak membutuhkan semua mahluk-Nya, tetapi semua mahluk-Nya lah yang membutuhkan Allah subhana wata'ala, seperti dalam firman Allah (artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (al-Ikhlas(112)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribadah itu tidak terbatas hanya pada sholat dan dzikir saja. Tapi menuntut ilmu itu juga merupakan ibadah. Bahkan menuntut ilmu merupakan fardhu 'ain, maksudnya merupakan hal wajib yang dilaksanakan oleh setiap muslim laki-laki dan perempuan. Berbeda dengan ilmu dunia hukumnya adalah fardhu kifayah, maksudnya kewajiban menuntut ilmu ini gugur jika sudah ada kaum muslimin yang melaksanakannya. Dengan menuntut ilmu syar'i maka kita akan dapat membedakan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq (benar) dan mana yang bathil. Islam ini tegak diatas dalil bukan dengan perasaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-116106799663147866?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2006/10/porsi-beribadah.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-116054805233381045</guid><pubDate>Wed, 11 Oct 2006 06:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-10-10T23:31:41.623-07:00</atom:updated><title>Bid’ah Hasanah &amp; Bid’ah Dhalalah</title><description>Sering sekali kita mendengar ucapan bahwa bid’ah terbagi menjadi dua macam, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Sebelum kita mengetahui tentang duduk permasalahan seputar pembagian bid’ah kepada dua bagian ini, maka merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahui dan mempelajari hadits-hadits Nabi shollallahu’alaihiwasallam yang berkaitan dengan bid’ah, dan kemudian menjadikannya sebagai standar kebenaran dalam permasalahan ini. Dinatara hadits-hadits tersebut ialah dua hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari sahabat Jabir bin Abdillah rodiallahu’anhu bahwasannya Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: “Amma ba’du: Sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam, dan sejelek-jelek urusan ialah urusan yang diada-adakan, dan setiap bid’ah ialah sesat.” [Riwayat Muslim, 2/592, hadits no: 867]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits kedua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن العرباض بن سارية رضي الله عنه قال: صلى بنا رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات يوم ثم أقبل علينا فوعظنا موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب، فقال قائل: يا رسول الله كأن هذه موعظة مودع، فماذا تعهد إلينا؟ فقال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا؛ فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari sahabat ‘Irbadh bin As Sariyyah rodiallahu’anhu ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam shalat berjamaah bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu beliau memberi kami nasehat dengan nasehat yang sangat mengesan, sehingga air mata berlinang, dan hati tergetar. Kemudian ada seorang sahabat yang berkata: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah, maka apakah yang akan engkau wasiatkan (pesankan) kepada kami? Beliau menjawab: Aku berpesan kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, dan senantiasa setia mendengar dan taat ( pada pemimpin/penguasa , walaupun ia adalah seorang budak ethiopia, karena barang siapa yang berumur panjang setelah aku wafat, niscaya ia akan menemui banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ Ar rasyidin yang telah mendapat petunjuk lagi bijak. Berpegang eratlah kalian dengannya, dan gigitlah dengan geraham kalian. Jauhilah oleh kalian urusan-urusan yang diada-adakan, karena setiap urusan yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat.” [Riwayat Ahmad 4/126, Abu Dawud, 4/200, hadits no: 4607, At Tirmizy 5/44, hadits no: 2676, Ibnu Majah 1/15, hadits no:42, Al Hakim 1/37, hadits no: 4, dll]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kedua hadits ini dan juga hadits-hadits lain yang serupa, ada dalil nyata dan jelas nan tegas bahwa setiap urusan yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dalam hadits ini bersabda: (كل بدعة ضلالة) setiap bid’ah ialah sesat, dalam ilmu ushul fiqih, metode ungkapan ini dikategorikan ke dalam metode-metode yang menunjukkan akan keumuman, bahkan sebagian ulama’ menyatakan bahwa metode ini adalah metode paling kuat guna menunjukkan akan keumuman, dan tidak ada kata lain yang lebih kuat dalam menunjukkan akan keumuman dibanding kata ini (كل). [Baca Al Mustasyfa oleh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozali 3/220, dan Irsyadul Fuhul oleh Muhammad Ali As Syaukani 1/430-432] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian dari kedua hadits ini, kita mendapatkan keyakinan bahwa setiap yang dinamakan bid’ah adalah sesat, demikianlah yang ditegaskan dan disabdakan oleh Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam. Sehingga tidak ada alasan bagi siapapun di kemudian hari untuk mengatakan, bahwa ada bid’ah yang hasanah atau baik. Keumuman hadits ini didukung oleh sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam dalam hadits lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عائشة قالت: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda: “Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, niscaya akan ditolak.” [Riwayat Bukhori 2/959, hadits no:2550, dan Muslim 3/1343, hadits no: 1718]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang muslim yang bernar-benar beriman bahwa Nabi Muhammad shollallahu’alaihiwasallam adalah utusan Allah, dia akan senantiasa bersikap sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا الأحزاب 36.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah bila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, untuk mengambil pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata”. (Al Ahzab 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata:”Ayat ini bersifat umum, sehingga mencakup segala urusan, yaitu bila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu urusan dengan suatu keputusan, maka tidak dibenarkan bagi siapapun untuk menyelisihinya atau memutuskan atau berpendapat atau berkata lain”. [Tafsir Al Qur’an Al Azhim, oleh Ibnu Katsir 3/490] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layak dan beradabkah setelah Nabi shollallahu’alaihiwasallam bersabda bahwa setiap bid’ah ialah sesat, kemudian kita, atau yang lain walaupun itu Imam Syafi’i mengatakan, bahwa ada bid’ah yang hasanah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih-lebih orang semacam Imam Syafi’i, yang telah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من استحسن فقد شرع &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang menganggap baik sesuatu, berarti ia telah membuat syari’at.” [Lihat Al Risalah oleh Imam As Syafi’i, 25, dan Al Mustasyfa oleh Al Ghozali 2/467]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk akalkah orang yang berkata demikian, mengatakan dan menyelisihi Nabi shollallahu’alaihiwasallam dalam mendefinisikan bid’ah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila demikian keadaannya, lalu bagaimana klarifikasi ucapan beliau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita cermati kembali perkataan Imam As Syafi’i: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;البدعة بدعتان: محمودة ومذمومة فما وافق السنة فهو محمود وما خالفها فهو مذموم. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bid’ah itu ada dua macam: yaitu yang mahmudah (terpuji) dan madzmumah (tercela). Maka setiap bid’ah yang selaras dengan As Sunnah, maka itu adalah bid’ah yang terpuji, dan yang tidak selaras dengan As Sunnah, maka itu adalah bid’ah yang tercela. [Lihat Hilyatul Auliya’ oleh Abu Nu’aim 9/113, dan Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani 13/253]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita cermati dan pahami dengan seksama, maka akan jelas bagi kita bahwa yang dimaksud oleh Imam Syafi’i dari kata “Bid’ah” ialah bid’ah secara etimologi (bahasa) yang berarti at thariqoh (jalan/metode) bukan secara terminologi (istilah dalam syari’at). Ini didukung dengan penjelasan beliau sendiri, tatkala beliau menegaskan bahwa yang dimaksud dengan bid’ah mahmudah ialah bid’ah yang selaras dengan As Sunnah. Sehingga mustahil dalam istilah syari’at Islam sesuatu yang selaras dengan As Sunnah disebut bid’ah, karena definisi bid’ah ialah sesuatu yang diada-adakan dan tidak ada dasarnya/ tidak diizinkan oleh Syari’ (Allah dan Rasul-Nya) baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, tidak juga secara langsung atau isyarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Kyai (silahkan lihat kategori Zikir Berjama’ah, artikel dengan judul “Pandangan Tajam Terhadap Zikir Berjama’ah” pada website ini -ed) sendiri pada halaman: 31 telah menyimpulkan: “Ringkasnya, segala sesuatu yang terjadi dalam agama yang belum pernah ada di zaman Nabi shollallahu’alaihiwasallam, dan tidak pula di zaman para sahabatnya, yang tidak bersumber dari syara’, baik dengan dalil yang tegas maupun dengan isyarat, dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulllah shollallahu’alaihiwasallam, maka hal itu menurut syari’at dinamakan dengan bid’ah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ucapan As Syafi’i: “Bid’ah yang tidak selaras dengan As Sunnah, maka itu adalah bid’ah madzmumah”, maka yang dimaksud dari kata bid’ah pada penggalan perkataan beliau ini ialah bid’ah secara istilah dalam syari’at, karena demikianlah kenyataannya, setiap bid’ah pasti tidak memiliki dasar dan landasan dalam syari’at, sehingga karena sebab ini, bid’ah itu dicela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian sesuatu yang selaras dengan As Sunnah, tidak disebut bid’ah dalam istilah syari’at, akan tetapi mungkin disebut bid’ah secara bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman seperti ini nyata sekali bila kita merujuk kepada perkataan As Syafi’i yang lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المحدثات ضربان: ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه بدعة الضلال وما أحدث من الخير لا يحالف شيئا من ذلك فهذه محدثة غير مذمومة &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perkara yang diada-adakan itu terbagi menjadi dua macam: (pertama) Perkara yang diada-adakan yang bertentangan dengan Al Qur’an, atau as sunnah, atau kesepakatan ulama’ (ijma’), maka ini adalah bid’ah dholalah (sesat), dan (kedua): kebaikan yang diada-adakan yang tidak bertentangan dengan salah satu dari dasar-dasar tersebut, maka ini adalah muhdatsah (suatu hal baru/diada-adakan) yang tidak tercela”. [Ibid, dan Jami’ Al Ulum wa Al Hikam, oleh Ibnu Rajab Al Hambali 267]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu menafsirkan perkataan Imam Syafi’i, dengan perkataan beliau sendiri lebih obyektif dan tepat, dari pada mereka-reka sendiri maksud perkataan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pemahaman ini jugalah yang disimpulkan oleh para ulama’ yang menjabarkan perkataan beliau, diantaranya Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والمراد بها –أي المحدثات- ما أحدث وليس له أصل في الشرع، ويسمى في عرف الشرع بدعة. وما كان له أصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة، فالبدعة في عرف الشرع مذمومة، بخلاف اللغة، فإن كل شيء أحدث لا على مثال يسمى بدعة، سواء كان محمودا أو مذموما &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan yang dimaksud dengannya (Al Muhdatsah/perkara yang diada-adakan) ialah setiap perkara yang diada-adakan dan tidak ada dasarnya dalam syari’at, dan dalam istilah syari’at disebut bid’ah. Dan setiap perkara yang memiliki dasar dalam syari’at, tidak disebut bid’ah. Dengan demikian bid’ah dalam pengertian syariat pasti tercela. Beda halnya dengan pengertian bahasa karena setiap hal yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya disebut bid’ah, baik hal itu terpuji atau tercela”. [Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al Asqalani 13/253, dan hendaknya dibaca pula penjelasan Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitabnya Jami’ Al Ulum wa Al Hikam, 267]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman terhadap perkataan Imam Syafi’i sangat jelas sekali, bagi orang yang hatinya bersih dan terhindar dari noda fanatik golongan atau bid’ah. Dan seandainya yang dimaksud dari kata bid’ah mahmudah ialah pengertian bid’ah secara istilah, bukan secara pengertian bahasa, maka perkataan beliau ini tidak dapat dijadikan dalil untuk menentang sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam yang jelas-jelas memvonis bahwa setiap bid’ah ialah sesat, Terlebih-lebih beliau telah berwasiat kepada setiap orang muslim agar mencampakkan pendapatnya, bila ternyata terbukti bertentangan dengan sabda Nabi shollallahu’alaihiwasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfirmasi pemahaman terhadap ucapan Imam Syafi’i ini juga berlaku pada setiap ucapan ulama’ lain yang senada dengan ucapan beliau, seperti ucapan Imam An Nawawi, dan Abd Al Haqq Al Dahlawi dll yang telah dinukil oleh bapak Kyai Dimyathi. [Untuk lebih jelasnya, silahkan baca kitab Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah, oleh DR. Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaili 1/112-117]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kisah dan ucapan Umar bin Khatthab rodiallahu’anhu yang diriwayatkan oleh Imam Malik, Bukhori dll, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عبد الرحمن بن عبد القاري أنه قال: خرجت مع عمر بن الخطاب رضي الله عنه ليلة في رمضان إلى المسجد فإذا الناس أوزاع متفرقون، يصلي الرجل لنفسه، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط. فقال عمر: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل، ثم عزم فجمعهم على أبي بن كعب، ثم خرجت معه ليلة أخرى، والناس يصلون بصلاة قارئهم فقال عمر: نعمت البدعة هذه، والتي ينامون عنها أفضل من التي يقومون. يريد آخر الليل وكان الناس يقومون أوله &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abdurrahman bin Abd Al Qari, ia mengisahkan: Pada suatu malam hari di bulan Ramadhon, aku keluar rumah bersama Umar bin Al Khatthab rodiallahu’anhu menuju ke masjid, didapatkan orang-orang sedang shalat tarawih dengan berpencar-pencar. Ada yang sholat sendirian, dan ada yang yang sholat berjamaah dengan beberapa orang. Maka Umar berkata: Saya rasa seandainya saya menyatukan mereka shalat dengan diimami oleh satu orang, niscaya lebih baik. Kemudian ia bertekad dan menyatukan mereka sholat dibelakang Ubai bin Ka’ab. Kemudian di lain malam aku keluar rumah bersamanya, [*] sedangkan orang-orang sedang shalat tarawih bersama imam mereka (yaitu Ubay bin Ka’ab). Maka Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah ialah ini, dan (sholat) yang mereka lakukan setelah tidur terlebih dahulu itu lebih baik dari yang mereka lakukan sekarang” yang beliau maksud ialah sholat di akhir malam, dan kala itu orang-orang lebih memilih untuk sholat pada awal malam. [Riwayat Bukhari 2/707, hadits no: 1906, Malik 1/114, hadits no: 250, Al Baihaqi 2/493]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[*] Ini mengisyaratkan bahwa sahabat Umar bin Al Khattab rodiallahu’anhu tidak ikut shalat pada awal malam berjamaah bersama mereka, akan tetapi beliau lebih memilih untuk shalat pada akhir malam, sebagaimana yang beliau jelaskan bahwa shalat pada akhir malam itu lebih baik, dibanding shalat pada awal malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendudukkan hukum sholat tarawih secara berjama’ah dan apakah relevan bila disebut sebagai amalan bid’ah secara istilah dalam syari’at, maka perlu diketahui bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat tarawih, dan menjalankannya dengan berjamaah bukanlah hasil rekayasa Umar bin Al Khatthab rodiallahu’anhu, sehingga dikatakan sebagai suatu amalan bid’ah hasanah, akan tetapi kedua hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam beserta sahabatnya. Marilah kita simak hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه و سلم صلى في المسجد ذات ليلة، فصلى بصلاته ناس، ثم صلى من القابلة فكثر الناس، ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة أو الرابعة فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه و سلم ، فلما أصبح قال: (قد رأيت الذي صنعتم، فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أني خشيت أن تفرض عليكم) قال وذلك في رمضان &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari sahabat ‘Aisyah –radhiallahu ‘anha- bahwasannya Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam pada suatu malam menjalankan sholat di masjid, maka ada beberapa orang yang mengikuti shalat beliau, kemudian pada malam selanjutnya beliau shalat lagi, dan orang-orang yang mengikuti shalat beliau pun bertambah banyak. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat, dan beliau shollallahu’alaihiwasallam tidak keluar menemui mereka pada pagi harinya beliau bersabda: Sungguh aku telah mengetahui apa yang kalian lakukan (yaitu berkumpul menanti shalat berjamaah) dan tidaklah ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, melainkan karena aku khawatir bila (shalat tarawih) diwajibkan atas kalian.” [*] dan itu terjadi pada bulan Ramadhan. [Riwayat Al Bukhari 1/380, hadits no: 1077, dan Muslim 1/524, hadits no: 761]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[*] Alasan Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam ini membuktikan kepada kita betapa sayangnya beliau kepada umatnya, sampai-sampai beliau khawatir bila beliau terus menerus shalat tarawih dengan berjamaah maka akan diturunkan wahyu yang mewajibkan shalat tarawih. Semoga salawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada beliau, keluarga dan seluruh sahabatnya, amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As Syathibi berkata: “Perhatikanlah hadits ini dengan seksama! Pada hadits ini ada petunjuk bahwa shalat tarawih adalah sunnah, karena berjamaahnya Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersama para sahabat pada beberapa hari merupakan dalil dibenarkannya shalat tarawih berjamaah di masjid. Adapun keengganan beliau setelah hari itu untuk keluar rumah, disebabkan oleh rasa khawatir akan diwajibkannya shalat tarawih, bukan berarti beliau tidak mau lagi untuk berjamaah shalat tarawih selama-lamanya. Hal ini karena masa itu ialah masa diturunkannya wahyu dan syari’at, sehingga sangat dimungkinkan bila banyak orang yang berjamaah shalat tarawih, akan diturunkan wahyu kepada Rasulullah yang mewajibkan shalat tarawih. Dan tatkala alasan ini telah tiada dengan wafatnya Nabi shollallahu’alaihiwasallam, maka permasalahan shalat tarawih berjamaah kembali kepada hukum asal, yaitu telah tetapnya syari’at dibolehkannya shalat tarawih berjama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Abu Bakar rodiallahu’anhu tidak menjalankan hal ini, karena adanya dua kemungkinan: Mungkin karena beliau berpendapat bahwa shalat pada akhir malam dan membiarkan orang-orang shalat sendiri-sendiri itu lebih utama dibanding menyatukan mereka shalat di belakang seorang imam pada awal malam. Alasan ini diungkapkan oleh At Tharthusi. Atau karena pendeknya masa khilafah beliau rodiallahu’anhu, sehingga tidak sempat memikirkan hal semacam ini, ditambah lagi beliau disibukkan oleh urusan orang-orang yang murtad dari agama Islam, dan urusan lainnya yang jauh lebih penting dibanding shalat tarawih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tatkala kaum muslimin telah tenang pada zaman khilafah Umar bin Al Khatthab rodiallahu’anhu, dan beliau mendapatkan orang-orang terpencar-pencar di dalam masjid sebagaimana yang dikisahkan dalam riwayat di atas- beliau berkata: Seandainya saya satukan mereka shalat dibelakang seorang imam, niscaya itu lebih baik. Dan tatkala keinginannya ini telah terlaksana, beliau mengingatkan bahwa bila mereka menjalankan shalat tarawih pada akhir malam, itu lebih baik.” [Al I’itishom, oleh As Syathibi, 1/140] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian telah terbukti bahwa yang dimaksud dari kata “bid’ah” dalam ucapan sahabat Umar bin Al Khatthab ialah bid’ah dengan pengertian bahasa, yaitu yang bermaknakan: metode atau jalan, dan bukan bid’ah secara pengertian istilah syari’at. Sehingga ucapan sahabat Umar ini tidak dapat dijadikan dalil guna mengatakan bahwa bid’ah itu ada dua: bid’ah hasanah dan bid’ah madzmumah. Karena amalan shalat tarawih, dan pelaksanaan shalat tarawih berjamaah di masjid, telah dicontohkan oleh Nabi shollallahu’alaihiwasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: http://muslim.or.id/?p=568)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-116054805233381045?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2006/10/bidah-hasanah-bidah-dhalalah.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-115931840275681388</guid><pubDate>Wed, 27 Sep 2006 00:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-09-26T17:55:35.306-07:00</atom:updated><title>Menyingkat Salam</title><description>Gw bingung kalo nerima sms, terus isinya "Ass. bla bla bla" atau terkadang juga ada via yahoo messenger. Ass dalam bahasa inggris artinya keledai, orang dungu, pantat. Jadi sebenernya orang ini mau ngucapin salam atau mau ngehujat? Padahal kata-kata اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ (Assalamu'alaikum) adalah kata-kata doa yang meminta kepada Allah subhana wata'ala dengan keselamatan dan dijauhi dari celaka. Kenapa harus disingkat ? bukankah manfaatnya menjadi lebih sedikit bahkan bisa timbul kemudharatan? Jika ingin mendoakan maka doakan dengan tulus dan ikhlas. Dan jika memang tulus dan ikhlas tentulah pengucapan salamnya tidak asal-asalan, karena niat yang baik itu tidak cukup dengan hati dan lisan saja tapi juga dengan tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah azza wajalla waghofurhurahim memberikan balasan kebaikan di dunia dan akhirat atas amalan-amalan yang kita lakukan. Wallahu'alam bishawaab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-115931840275681388?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2006/09/menyingkat-salam_26.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-14610711.post-115897552355905056</guid><pubDate>Sat, 23 Sep 2006 01:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-09-22T18:40:21.160-07:00</atom:updated><title>Bank yang menjengkelkan</title><description>Bermula dari pinjaman ortu gw yang mengharuskan surat rumah dijadikan jaminan oleh bank. Sewaktu ngurus peminjaman ini prosedurnya gampang banget, begitu beres mau dicabutnya susah banget. Sewaktu ayah gw meninggal, urusan dengan bank ini masih menggantung. Untuk mencabut perjanjian itu selain harus melunasi pinjamannya juga harus membuat surat ini dan itu. Semua surat pun akhirnya dibuat dengan penuh sabar. Dan akhirnya memei gw ngasih semua surat surat yang dibutuhkan ama si Bank ini. Ternyata dia minta surat kuasa dari gw sebab gw sekarang berada di luar kota. Setau gw yang namanya surat kuasa itu cukup dengan materai. Tapi yang diminta sama Bank nya adalah surat yang gw bikin harus dilegalisir oleh notaris. Ditanya kenapa.... jawabannya "ini sudah prosedurnya", aneh sekali ..... seorang pegawai bank yang sangat kental dan tau dengan undang undang malah mengeluarkan jawaban seperti itu. Orang ini telah mewajibkan sesuatu yang tidak wajib. Yang bikin gw kesel itu bukannya soal susahnya melegalisir surat kuasa itu, tapi kenapa si BANK ribawi menambah kerjaan gw yagn seharusnya itu nggak perlu gw lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Markas da'i akan dipenuhi dengan aturan agama&lt;br /&gt;markas pejabat akan dipenuhi dengan segenap aturan aturan pejabat&lt;br /&gt;begitu juga markas ular akan dipenuhi dengan segenap aturan aturan ular yang menjengkelkan"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14610711-115897552355905056?l=menyehnyeh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://menyehnyeh.blogspot.com/2006/09/bank-yang-menjengkelkan.html</link><author>noreply@blogger.com (Dhanny Kosasih ibn Gunawan Kosasih)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item></channel></rss>